Sudah 2 pekan ini saya mendengarkan ceramah dari 2 sahabat saya, ikhwah yang berasal dari salah satu pergerakan Islam (harokah) di Indonesia. Alhamdulillah, begitu banyak nasehat yang dapat dipetik dari mereka. Inti dari ceramah adalah solusi atas keadaan umat yang tengah dilanda krisis moral.
Tulisan ini sebenarnya bukan untuk menkoreksi ceramah sahabat2 saya tersebut, tetapi lebih untuk mengkoreksi diri saya sendiri supaya tetap istiqomah dalam usaha dakwah yang berwawasan global, Rahmatan Lil’Alamaiin….
Menurut sahabat2 saya tersebut, solusi umat adalah :
Yang pertama : Kita wajib menegakkan hukum syariat suapaya orang-orang Islam menjadi takut untuk maksiat terutama meninggalkan shalat.
Yang kedua : Kita wajib wajib menguasai teknologi supaya orang-orang Islam dapat membendung tayangan2 maksiat di TV dan memberikan tayangan2 yang islami di TV
Sama sekali tidak ada yang salah di kedua statement diatas, hanya saja…menurut hemat saya, keduanya bukanlah esensi, inti atau akar dari permasalahan umat….
Baginda Rasulullah saw, senantiasa dakwah mengajak manusia untuk taat kepada Allah swt (Dakwah Illalah). Tidak pernah mengajak manusia untuk memperbaiki teknologi, memperbaiki sistem hukum, memperbaiki ekonomi. “Hati – hati” dari manusia yang diperbaiki dahulu.
Baginda Rasululullah saw tidak pernah menghancurkan berhala2 yang saat itu jumlahnya ratusan di lingkungan Ka’bah. Tetapi baginda Rasulullah saw dakwah kepada manusia “Yaa ayyuhannaas quluu laailaha illAllah tuflihu…”, sehingga berhala2 yang ada di dalam hati2 manusia yang “dihancurkan”, dan setelah hancur maka dengan sendirinya berhala2 tersebut dihancurkan oleh mereka yang telah beriman..
Memang harus berhukum Islam, berekonomi syariat dan berteknologi… tapi bukan itu esensinya dan belum sekarang saatnya. Semua itu akan wujud dan diwujudkan oleh Allah swt di tengah2 umat jika umat telah siap. Sekarang saatnya kita Dakwah Dakwah dan Dakwah. Dakwah cara Nabi bukan Dakwah cara Nafsu. Dakwah sistem Nabi bukan Dakwah sistem Yahudi. Dakwah nubuwwah dengan gerak, jumpa umat, tidak minta upah, korban harta dan jiwa sendiri.
Kalaulah sekarang hukum islam ditegakkan, berapa banyak orang2 yang dipotong tangannya di Indoneisa (karena banyak pencuri dan koruptor), tapi mati tetap saja tidak membawa Iman. Dan berapa banyak lahir “orang-orang munafik” yang hanya beribadah karena takut dihukum, bukannya takut pada Allah swt.
Waallahu’alam
Betul ya Allah….Insya ALLAH, saya siap amal dan sampaikan!!
By: Imran on 4 October 2010
at 2:00 pm
Assalamu’alaikum wrwb. Menurut ana semua kewajiban syariat Islam harus dilakukan secara simultan semampu kita. Karena saat ini telah sempurna wahyu Allah dan hadits-hadits nabi juga sudah dibukukan oleh para ulama. Jangan sampai seorang muslim menunda shalat dg alasan mau betulin tauhid dulu. Atau gak puasa karena mau betulin shalat dulu. Demikian juga menangguhkan dakwah ekonomi, hukum dan politik dengan alasan yg penting betulin hati dahulu. Oleh sebab itu tugas para dai sangat berat dan banyak sehingga butuh sinergi antar harokah Islamiyah. Ana pribadi sangat respek dengan dakwah jamaah tabligh yg menekankan keimanan, yakin kpd Allah yg maha ghaib, menumbuhkan semangat ibadah dan sunnah Nabi Muhammad SAW. Semoga hati kita bisa terbuka untuk menerima kebenaran dan saling mengambil manfaat satu sama lain, karena tidak ada yang bebas dari kesalahan kecuali baginda Nabiyullah Muhammad SAW.
By: Abu Hilma on 9 November 2011
at 12:19 pm
Kalau saat ini Hukum Syari’at Islam ditegakan sehingga banyak pencuri di potong tangannya, banyak penzina di rajam dll..dan kalau pun mereka mati tidak membawa Iman..apakah anda atau saya atau keluarga kita yang disalahkan???
setiap manusia menanggung amalnya masing-masing.
setidaknya umat akhir zaman sudah berhukum dengan hukum yang Allah kehendaki, urusan mereka mati dalam keadaan Iman rusak atau munafik, itu urusan dia dengan Allah.(itu masalah Hidayah)
Allah gak akan memberi beban yang manusia tidak sanggup melakukannya.
Mengenai Munafik, di Zaman Nabi saja, ada kaum munafik dan boleh dibilang Nabi tidak berhasil membuat mereka tobat dari kemunafikannya, lah apalagi umat akhir zaman…apa iya mereka bisa lebih hebat dibanding Nabi nya?…MUSTAHIL.
sudah menjadi sunnatullah bahkan qudratullah, sejak jaman Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad akan ada segilintir kaumnya yang menyimpang..jadi itu hal yang biasa saja.
Cita-cita supaya semua umat Nabi mati dalam keadaan Iman yang benar dan amal yang benar ini adalah target tertinggi dan ini sejatinya buat diri sendiri.
Jangan sampai karena memiliki pemahaman, misalnya perbaiki Iman dahulu nanti akan beres semuanya, sehingga mengecilkan atau menganggap remeh pemahaman umat Nabi yang lain, misalnya yang berfikir Syariat dulu, ekonomi dulu dll.
saya pribadi berpendapat semua jalan bersama-sama saja, Insya Allah ada kebaikan buat bersama-sama.
Wallahu A’lam
By: Karim on 27 February 2012
at 1:01 pm
Syukron…semoga Bapak dan saya istiqomah dalam dakwah,…. sunnah “fikir dan risau umat” ini lah yang sudah banyak ditinggalkan umat saat ini…sebagai umat terbaik yang berbeda dgn kaum terdahulu, sehingga kita tidak ada rasa tanggung jawab, padahal untuk itulah Rasulullah saw diutus bagaimana ummat ini selamat seluruhnya, dan kita selaku umatnya pun punya kerja yang sama dengan Rasulullah saw “Qul haadzihi sabili ad’uu ilallah…….” hingga menjelang wafatnya pun Rasulullah saw berucap “ummatii ummatii ummatii” untuk itulah kita perlu belajar…sekurang-kurangnya kita ada sifat risau umat, jika tidak ada perasaan risau maka azab akan menimpa kita ummat Islam keseluruhannya meskipun kita orang soleh pun terkena (Al Hadits)
Silahkan saja usaha2 lain berjalan, tapi usaha dakwah tabligh jangan ditinggalkan….go dakwah go tabligh
Wallahu’alam
By: Fajar Harguna on 22 March 2012
at 2:57 pm
Jazakallahu khair atas pencerahannya
By: Fajar Harguna on 22 March 2012
at 2:58 pm